Derby Della Capitale!




Derby della Capitale (Derby Ibukota) juga dikenal sebagai Derby Capitolino il atau Derby del Cupolone atau Derby del Colosseo atau Derby dell’Urbe, atau juga The Roma Derby dalam bahasa inggris, adalah pertandingan antar dua tim sepakbola utama yang berdomisili di kota Roma, yakni Associazione Sportiva Roma (AS Roma) dengan Societa Sportiva Lazio (SS Lazio).
Derby della Capitale dapat dianggap sebagai derby tersengit di Italia dibandingkan dengan derby lainnya seperti Derby della Madonnina (derby kota Milan) atau Derby della Mole (derby kota Turin), juga dapat dikatakan sebagai salah satu derby terbesar dan terpanas di Eropa.
Derby della Capitale telah ditandai dalam sejarah dengan penonton yang membludak, adu semangat dan penuh tensi, dan seringkali diwarnai insiden-insiden kekerasan.


Sejarah Persaingan

  1. Penduduk kota Roma meyakini bahwa Derby della Capitale adalah “lebih dari sekadar permainan”.
  2. AS Roma merupakan merger dari tiga klub lokal di kota Roma, yaitu: Roman, Alba-Audace, dan Fortitudo yang diperintah oleh rezim fasis saat itu (Benito Mussolini) yang berkeinginan membentuk klub sepakbola di kota Roma yang mampu menandingi dominasi klub-klub di utara Italia.
  3. Berkat pengaruh seorang jenderal fasis (Giorgio Vaccaro), Lazio menjadi satu-satunya klub di Roma yang menolak adanya merger, hal inilah yang pada awal mulanya memunculkan persaingan antara kedua klub. Derby della Capitale pertama berlangsung pada tanggal 8 Desember 1929, yang dimenangkan oleh Roma dengan skor 1-0 (saat itu masih berlangsung di stadion Campo Rondinella).
  4. Fakta bahwa kedua klub membenci klub-klub dari utara Italia, terlebih mereka tidak memenangi banyak piala sebagaimana klub-klub raksasa itu, menjadikan Derby della Capitale sebagai kesempatan untuk membuktikan siapa yang lebih dominan di ibukota (Roma).
Secara historis, pendukung AS Roma merupakan penduduk daerah selatan kota Roma yang berhaluan politik sayap kiri (sosialis/demokrasi sosial). Sementara itu, suporter Lazio cenderung berasal dari daerah utara kota Roma yang lebih makmur dan beraliran politik sayap kanan (liberal). Perbedaan tingkat sosio-ekonomi dan haluan politik ini yang menambah bumbu persaingan diantara kedua belah fans. Hal inilah yang juga menyebabkan ultras masing-masing fans mengambil tempat yang bertolak belakang di stadion, Ultras Lazio di curva nord dan Ultras Roma di curva sud.
Bagi fans Roma, fans Lazio dianggap sebagai outsider/orang luar, karena asal usul mereka dari luar kota Roma. Sementara bagi fans Lazio, merekalah yang membawa sepakbola ke kota Roma (Lazio telah berdiri sejak 1900, sementara Roma baru muncul 27 tahun kemudian).


Insiden

Dua insiden ekstrim khususnya telah meninggalkan jejak mereka pada sejarah. Pada tahun 1979, seorang laziale Vincenzo Paparelli dipukul di mata dan dibunuh dengan pistol yang ditembakkan oleh seorang penggemar Roma dari ujung stadion, menjadi korban tewas pertama di sepak bola Italia akibat kekerasan, dan pada tahun 2004 sebuah acara belum pernah terjadi sebelumnya terjadi ketika Ultras Roma memaksa pertandingan harus dihentikan setelah menyebarkan rumor palsu di antara kerumunan bahwa seorang anak telah dibunuh oleh polisi sebelum awal permainan.

Derby pada tanggal 21 Maret 2004 ditinggalkan, empat menit memasuki babak kedua, dengan skor terikat pada 0-0, ketika kerusuhan pecah di tribun dan presiden Liga Sepakbola Italia, Adriano Galliani, memerintahkan wasit Roberto Rosetti untuk menangguhkan pertandingan. Kerusuhan, termasuk pertukaran literal kembang api, dimulai dengan penyebaran desas-desus bahwa anak laki-laki telah dibunuh oleh sebuah mobil polisi di luar stadion. Cerita ini menyebar ke pemain ketika tiga pemimpin ultras Roma berjalan ke lapangan untuk berbicara dengan Francesco Totti, kapten Roma. Bahkan, dari baris terakhir dari stadion, beberapa fans melihat di alun-alun terdapat tubuh ditutupi dengan kain putih.

Kemudian, petugas medis memasang lembaran menjelaskan bahwa anak itu mengalami kesulitan bernapas, diperparah oleh udara penuh gas air mata, dan kemudian kain itu digunakan sebagai filter. Penolakan oleh polisi, menyebar melalui speaker dari stadion, tidak mampu menghapus semua keraguan. Totti kemudian meminta pertandingan yang akan dibatalkan, di mana kesepakatan Adriano Galliani disepakati oleh wasit melalui telepon selular - dari lapangan - dan memerintahkan permainan ditunda. Setelah pertandingan itu ditunda pertempuran berkepanjangan antara penggemar dan polisi. , dengan jalan-jalan dekat stadion yang dibakar, akhirnya mengakibatkan 13 penangkapan dan lebih dari 170 luka-luka di kalangan polisi saja. Pertandingan itu diputar pada 28 Maret dan berakhir imbang 1-1 tanpa kesulitan kerumunan.


Catatan Derby

  1.  Derby pertama dimainkan tanggal 8 Desember 1929, dengan hasil akhir 1-0 untuk Roma berkat gol Rodolfo Volk.
  2. Lazio baru berhasil memenangkan derby pertamanya di Serie A pada tanggal 23 Oktober 1932 dengan skor 3-0 (2 gol Fantoni dan 1 gol Malatesta)
  3. Derby pertama di stadion olimpico berakhir imbang 1-1. Carlo Galli menyumbang gol untuk Roma, dan Pasquale Vivolo menyamakannya bagi Lazio
  4.  Kemenangan terbesar Roma tercatat pada musim 1933/1934 dengan skor 5-0, sementara kemenangan dengan selisih terbesar Lazio adalah 3-0 yang terjadi pada musim 2006/2007
  5. Lazio mencatat kemenangan derby terbanyak dalam satu musim. Hal ini terjadi pada musim 1997/1998, dimana Lazio memenangi seluruh empat derby dalam musim tersebut (masing-masing dua kali di Serie A dan perempat final Coppa Italia)
  6. Francesco Totti adalah pemain yang paling banyak bermain di Derby della Capitale
  7. Dino da Costa, Marco Delvecchio, dan Francesco Totti telah mencetak 9 gol bagi Roma dalam derby, sementara Silvio Piola menjadi pemain Lazio terproduktif dalam derby dengan 6 golnya
  8. Pemain yang memegang rekor gol terbanyak dalam satu pertandingan derby adalah il aeroplanino Vincenzo Montella. Dalam derby tanggal 11 Maret 2002, Montella mencetak 4 gol dalam kemenangan Roma 5-1
  9. Pemain yang dapat mencetak gol dalam derby bagi kedua klub hanyalah Arne Selmosson
  10. Tidak banyak pemain yang bermain untuk kedua klub dalam derby, antara lain: Fulvio Bernardini, Luigi DI Biagio, Attilio Ferraris IV, Diego Fuser, Lionello Manfredonia, Sinisa Mihajlovic, Angelo Peruzzi, Arne Selmosson, Sebastiano Siviglia
Source : wiki , asromaasik , google dan kawan kawan
    Senin, 08 April 2013
    Posted by Andika Dian Prasetya
    Tag :

    Popular Post

    Diberdayakan oleh Blogger.

    - Copyright © 2013 dikafuturo -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -